CIPP (Context, Input, Process and Product) Evaluation on Humanistic Mathematics Learning

CIPP (Context, Input, Process and Product) Evaluation

on Humanistic Mathematics Learning

I.  PENDAHULUAN

Aliran humanistik muncul sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap penekanan aspek kognitif dalam pembelajaran. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan menjadi fokus dalam model pembelajaran humanistik (http://aliran-humanistik.html). Diterapkannya pembelajaran humanistik dalam pembelajaran matematika dengan harapan mampu mengaktualisasi diri siswa secara keseluruhan. Di samping itu, juga meminimalisasi persepsi peserta didik yang mengidentikkan matematika dengan rumus yang mengakibatkan siswa hanya menghafal konsep tanpa memahaminya.

Pembelajaran matematika secara humanistik berarti menempatkan matematika sebagai bagian dari kehidupan nyata manusia. Proses pembelajarannya menempatkan peserta didik sebagai subyek yang bebas menemukan pemahaman berdasarkan pengalamannya sehari-hari (Susilo, 2008). Nuansa belajar humanistik dalam pembelajaran matematika di sekolah akan mengakibatkan pembelajaran matematika dapat memberikan dorongan hati (impulse) kepada siswa, sehingga dapat menyentuh dan menumbuhkembangkan nilai-nilai kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan mereka.

Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan pembelajaran matematika humanistik diperlukan adanya evaluasi. Menurut Stufflebeam (Ansyar, 1989), evaluasi adalah proses memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk mempertimbangkan alternatif-alternatif pengambilan keputusan. Evaluasi yang ditawarkan di sini ialah evaluasi dengan model CIPP (Context, Input, Process and Product). Alasannya, karena model ini bersifat mendasar, menyeluruh, dan terpadu. Bersifat mendasar, karena men­cakup obyek-obyek inti pembelajaran matematika humanistik, yakni tujuan, materi, proses pembelajaran, dan evaluasi itu sendiri. Bersifat menyeluruh, karena evaluasi difokuskan pada seluruh pihak yang terkait dalam proses pembelajaran dan pengimplementasian pembelajaran matematika humanistik. Bersifat terpadu, karena proses evaluasi ini melibatkan seluruh pihak yang terkait dalam proses pembelajaran, terutama siswa.

II. PEMBAHASAN

Aliran humanistik dikembangkan pada tahun 1940-an oleh Arthur Combs, Abraham H. Maslow dan Carl R. Roger, sebagai bentuk reaksi ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behavioristik (http://aliran-humanistik.html). Konsep belajar humanistik (Baharuddin & Wahyuni, 2008: 142-143) memandang bahwa belajar bukan sekedar pengembangan kualitas kognitif saja. Pendekatan humanistik dalam pembelajaran menekankan pentingnya emosi atau perasaan, komunikasi yang terbuka, dan nilai-nilai yang dimiliki setiap siswa. Pembelajaran humanistik memandang proses belajar bukan hanya sebagai sarana transformasi pengetahuan saja, tetapi lebih dari itu, proses belajar merupakan bagian dari mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Konsep pembelajaran matematika yang humanistik di sekolah, tidak hanya berkaitan dengan berbagai pandangan pembelajaran yang mungkin dari matematika dan hubungannya dengan logika semata, tetapi juga berkaitan dengan dorongan mengaitkan pembelajaran matematika dengan pengalaman dan emosi terdalam dari diri manusia. Sebagaimana Brown (1996) mengatakan:

“In seeking to elaborate upon the concept of humanistic mathematics education, we have used the helpful heuristic of seeking alternatives to the view of mathematics as driven by logic alone…. A significant humanistic agenda might begin with an impulse to connect mathematics curriculum with the deepest of human experience and emotions.”

Dalam pembelajaran matematika humanistik, guru berperan sebagai fasilitator dan motivator bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran serta memberikan siswa kesempatan untuk maju sesuai dengan kecepatannya (kemampuannya).

White (dalam Susilo, 2004) menjelaskan bahwa matematika humanistik mencakup dua aspek pembelajaran, yakni: 1) Pembelajaran matematika yang manusiawi, yaitu proses pembelajaran matematika yang menempatkan siswa sebagai subyek untuk membangun pengetahuannya dengan memahami kondisi-kondisi, baik dalam diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Siswa aktif mencari, menyelidiki, merumuskan, membuktikan, dan mengaplikasikan apa yang dipelajari. 2) Pembelajaran matematika secara manusiawi, yaitu proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga intuisi dan kreativitas siswa. Selain memahami dan menguasai konsep matematika, siswa akan terlatih bekerja mandiri maupun bekerjasama dalam kelompok, bersikap kritis, kreatif, konsisten, berpikir logis, sistematis, menghargai pendapat, jujur, percaya diri, dan bertanggung jawab.

Berdasarkan pandangan tersebut, dapat dijabarkan beberapa ciri umum pembelajaran matematika humanistik, seperti disebutkan oleh Haglund (1997), yaitu: (1) Menempatkan siswa sebagai penemu (inquirer); (2) Memberikan siswa kesempatan untuk saling membantu memahami masalah dan pemecahannya yang lebih mendalam; (3) Belajar berbagai macam cara untuk menyelesaikan masalah; (4) Menunjukkan latar belakang sejarah matematika sebagai suatu penemuan atau usaha keras (endeavor); (5) Menggunakan masalah-masalah yang menarik dan pertanyaan terbuka (open-ended); (6) Menggunakan berbagai teknik penilaian, tidak hanya menilai kemampuan mengingat prosedur-prosedur saja; (7) Mengembangkan pemahaman dan apresiasi terhadap ide-ide besar matematika yang membentuk sejarah dan budaya; (8) Membantu siswa melihat matematika sebagai studi terhadap pola-pola. Termasuk aspek keindahan dan kreativitas; (9) Membantu siswa mengembangkan sikap percaya diri, mandiri, dan penasaran (curiosity); dan (10) Mengajarkan materi-materi yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan pembelajaran matematika humanistik, maka diperlukan adanya evaluasi. Secara harfiah, evaluasi berasal dari kata dalam bahasa Inggris “evaluation” yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols & Hasan Shadily: 1983). Stufflebeam, dkk (1971) mendefinisikan evaluasi sebagai “The process of delineating, obtaining, and providing useful information for judging decision alternatives”. Artinya, evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif keputusan. Djaali, Mulyono dan Ramli (2000) mendefinisikan evaluasi sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan standar obyektif yang telah ditetapkan kemudian diambil keputusan atas obyek yang dievaluasi. Dengan demikian, evaluasi merupakan suatu proses secara sistematis yang dilaksanakan untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan efisiensi suatu pembelajaran yang bersangkutan, termasuk di dalamnya untuk mengetahui keberhasilan seluruh subyek belajar yang menempuh suatu pembelajaran.

Evaluasi dalam pembelajaran banyak ditemukan berorientasi hasil, padahal banyak aspek yang perlu dievaluasi selama proses pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, penulis memilih evaluasi dengan model CIPP. Hal ini dikarenakan model evaluasi ini lebih komprehensif dibandingkan dengan model evaluasi lainnya. Model evaluasi CIPP dikembangkan oleh Daniel Stufflebeam, dkk (1967) di Ohio State University. Model evaluasi ini pada awalnya digunakan untuk mengevaluasi ESEA (the Elementary and Secondary Education Act). CIPP adalah singkatan dari context evaluation (evaluasi terhadap konteks), input evaluation (evaluasi terhadap masukan), process evaluation (evaluasi terhadap proses), dan product evaluation (evaluasi terhadap hasil).

CIPP

Evaluasi konteks (context evaluation) merupakan dasar evaluasi yang bertujuan menyediakan alasan-alasan (rationale) dalam menentukan tujuan (Baline R. Worthern & James R. Sanders: 1979). Karenanya upaya yang dilakukan evaluator dalam

evaluasi konteks ini ialah memberikan gambaran dan rincian terhadap lingkungan, kebutuhan dan tujuan (goal). Stufflebeam (1983) menyatakan evaluasi konteks sebagai fokus institusi yang mengidentifikasi peluang dan menilai kebutuhan. Kebutuhan dalam hal ini dirumuskan sebagai suatu kesenjangan (discrepancy view) antara kondisi nyata (reality) dengan kondisi yang diharapkan (ideality). Evaluasi konteks juga mendiagnostik suatu kebutuhan yang selayaknya tersedia sehingga tidak menimbulkan kerugian jangka panjang (Isaac & Michael: 1981).

Evaluasi masukan (input evaluation) meliputi analisis personal yang berhubungan dengan bagaimana penggunaan sumber-sumber yang tersedia dan alternatif-alternatif strategi yang harus dipertimbangkan untuk mencapai suatu program (Suharsimi, 1988: 39). Komponen evaluasi masukan meliputi sumber daya manusia, sarana dan prasarana pendukung serta berbagai prosedur dan aturan yang diperlukan.

Evaluasi proses (process evaluation), termasuk di dalamnya ialah mengidentifikasi permasalahan prosedur pada pelaksanaan kejadian dan aktivitas. Setiap perubahan yang terjadi pada aktivitas dimonitor secara jujur dan cermat. Stufflebeam (dalam Badrujaman, 2009: 66), juga mengatakan bahwa evaluasi proses merupakan pengecekan yang berkelanjutan atas implementasi perencanaan. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa evaluasi proses juga bertujuan untuk menyediakan informasi sebagai dasar memperbaiki program serta untuk mencatat, dan menilai prosedur kegiatan dan peristiwa.

Evaluasi produk (product evaluation) adalah evaluasi yang bertujuan untuk mengukur, menginterpretasikan dan menilai pencapaian program (Stufflebeam & Shienfield, 1985: 176). Di dalam analisis produk diperlukan pembanding antara tujuan yang ditetapkan dalam rancangan dengan hasil program yang dicapai. Hasil yang dinilai dapat berupa skor tes, prosentase, data observasi, diagram data, sosiometri dan sebaginya, yang dapat ditelusuri kaitannya dengan tujuan-tujuan yang lebih rinci. Selanjutnya dilakukan analisis kualitatif tentang mengapa hasilnya demikian. Evaluasi produk dapat dilakukan dengan membuat definisi operasional dan mengukur kriteria pengukuran yang telah dicapai (obyektif), melalui pengumpulan nilai dari Stakeholder dengan unjuk kerja (performing), baik menggunakan analisis kuantitatif maupun kualitatif (Trotter et al., 1998:136).

CIPP 3

Gambar: Diagram Model Evaluasi CIPP (Stufflebeam, 2003)

Model CIPP berorientasi pada suatu keputusan (a decision oriented evaluation approach structured). Tujuannya adalah untuk membantu administrator (kepala sekolah dan guru) dalam membuat keputusan. Stufflebeam (dalam Eko Putro Widoyoko. 1993: 118) mengungkapkan bahwa, “the CIPP approach is based on the view that the most important purpose of evaluation is not to prove but improve.” Konsep tersebut ditawarkan oleh Stufflebeam dengan pandangan bahwa tujuan penting dari evaluasi adalah bukan membuktikan tetapi untuk memperbaiki.

Sebagai contoh, Ibu Astuti hendak menerapkan pembelajaran matematika humanistik pada pokok bahasan volume bangun ruang kubus. Segala perencanaan, mulai dari strategi pembelajaran, bahan ajar, media hingga penilaian telah disiapkan. Berikut instrumen evaluasi CIPP yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran yang dilakukan.

CIPP 2 ---
Berdasarkan kajian teoritis, CIPP dalam mengevaluasi pembelajaran matematika humanistik, dari segi konteksnya sudah memadai. Hal ini dikarenakan tujuan pembelajaran matematika humanistik sesuai dengan kondisi lingkungan dan karakteristik peserta didik yang semakin berkembang rasa ingin tahunya seiring perkembangan zaman, sehingga mengarahkan guru menjadi fasilitator dan motivator mereka yang profesional. Pembelajaran matematika humanistik mampu menjawab dan memfasilitasi kebutuhan peserta didik saat ini, bahwa dalam belajar matematika juga diperlukan keterampilan sosial

Dari segi input, guru dan siswa dalam pembelajaran matematika humanistik mampu bekerja sama dengan baik sesuai dengan kapasitas tugasnya masing-masing. Selain itu, disertai kejelasan aturan dan prosedur kerja dalam pembelajaran matematika humanistik. Begitu pula sumber belajar yang digunakan tidak hanya berasal dari guru, melainkan siswa dapat menggunakan buku apapun yang relevan untuk membangun pengetahuan mereka. Tentu lebih menarik lagi karena dilengkapi penggunaaan media belajar oleh guru selama pembelajaran berlangsung, walaupun sederhana.

Dipandang dari prosesnya, sudah berjalan dengan baik. Siswa tidak lagi dijadikan obyek belajar yang pasif menerima informasi dan prosedur, melainkan sebagai subyek belajar yang aktif dalam membangun pengetahuan dan keterampilannya. Selama pembelajaran matematika humanistik berlangsung, guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator. Siswa aktif mencari, menyelidiki, merumuskan, membuktikan, dan mengaplikasikan apa yang dipelajari. Ini berakibat tidak hanya pengetahuan kognitif yang dibangun, tetapi siswa juga dilatihkan beberapa keterampilan sosial, seperti bekerja mandiri maupun bekerjasama dalam kelompok, bersikap kritis, kreatif, konsisten, berpikir logis, sistematis, menghargai pendapat, jujur, percaya diri, dan bertanggung jawab. Selama pembelajaran guru menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, sehingga dalam menerima pelajaran siswa tidak lagi merasa didoktrin, melainkan dapat belajar tanpa paksaan dan itu lebih bermakna bagi mereka.

Dari segi produk, pembelajaran matematika humanistik menghasilkan siswa yang aktif, kreatif dan bertanggung jawab, di samping unggul dalam pengetahuan kognitif. Ini dikarenakan dalam pembelajarannya, guru tidak hanya menilai kognitifnya saja melainkan juga aspek afektif dan psikomotorik. Dalam hidup bermasyarakat, siswa tidak hanya membutuhkan pengetahuan kognitif melainkan juga nilai-nilai kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan yang dapat ditumbuhkembangkan dalam pembelajaran matematika humanistik.

CIPP dalam mengevaluasi pembelajaran matematika humanistik sudah mencakup keseluruhan aspek penting dalam evaluai. Namun, keberlanjutan informasi dan evaluasi sangat diperlukan dalam pengembangan program pembelajaran. Meskipun berdasarkan hasil evaluasi ternyata program pembelajaran matematika humanistik sudah memadai, namun pemberian umpan balik, pemodifikasian, dan penyesuaian tetap diperlukan, sebab sekolah selalu menghendaki adanya perubahan yang signifikan ke depannya.

III.          PENUTUP

Model evaluasi CIPP merupakan model evaluasi program pembelajaran yang lebih komprehensif dibandingkan model evaluasi lainnya. Ini dikarenakan cakupan evaluan yang lebih kompleks, meliputi konteks, masukan, proses dan produk. Jika evaluasi program pembelajaran model CIPP diterapkan pada wilayah terbatas, hasil evaluasi dapat digeneralisasikan dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan terhadap program pembelajaran yang berlaku.

Berdasarkan evaluasi CIPP, pembelajaran matematika humanistik sangat relevan dalam dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran matematika humanistik selalu mendorong peningkatan kualitas diri manusia melalui penghargaannya terhadap potensi-potensi positif yang dimiliki setiap insan. Seiring dengan perubahan dan tuntutan zaman, proses pendidikan pun senantiasa berubah. Dengan adanya perubahan dalam strategi pendidikan dari waktu ke waktu, humanistik memberi arahan yang signifikan dalam pencapaian tujuan pembelajaran, khususnya matematika. Namun, tetap diperlukan pemodifikasian demi kesempurnaan hasil pencapaian, agar pembelajaran matematika lebih bermakna.

 

REFERENSI

G. F. Madus et al. 1987. The CIPP Model for Program Evaluation. Jurnal Pendidikan.

Priyono. Menuju Pendidikan Demokratis–Humanistik: http://www.Kompasiana.com (artikel Kompas Sabtu 23 Juli 2005).

Robinson, Bernadette. 2002. The CIPP approach to evaluation. COLLIT Project.

Siswono, Tatag Yuli Eko. 2007. Pembelajaran Matematika Humanistik Yang Mengembangkan Kreativitas Siswa. FMIPA UNESA Surabaya. Disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika FKIP Univ. Sanata Dharma Yogyalarta.

Stufflebeam, D. et al. 1971. Educational Evaluation and Decision Making. Itasca, Ill:Peackock.

Stufflebeam, Daniel L. 2002. CIPP Evaluation Model Checklist: A tool for applying the Fifth Installment of the CIPP Model to assess long-term enterprises.

Tan, Stella, dkk. 2010. CIPP as a model for evaluating learning spaces. Jurnal Swinburne University of Technology.

Widoyoko, S. Eko Putro. (Tahun tidak diketahui). Evaluasi Program Pembelajaran. Jurnal Pendidikan.

http://kajianpsikologi.blogspot.com/2011/01/pendekatan-psikologi-humanistik-dalam.html. (Diakses 16 Oktober 2012).

http://Model Evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) _ Tama Indra Brilian Blog’s.htm. (Diakses 16 Oktober 2012).

http://Model pembelajaran:aliran-humanistik.html. (Diakses 16 Oktober 2012).

http://Pengertian Evaluasi, Pengukuran, Dan Penilaian Dalam Dunia Pendidikan « Navel’s Blog.htm. (Diakses 16 Oktober 2012).

http://setiawan-pendidikanmatematika.blogspot.com/2011/03/teori-belajar-humanistik.html. (Diakses 16 Oktober 2012).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s